The Weather
September 4, 2011 Leave a Comment
Visual by : Cut Desy Gitary
Music by : Iman Fattah
Analog for Life
July 27, 2011 Leave a Comment
Check this out, Wonderbra Opera Setan photos at Java Rockin’ Land by Wirantoko Adi.
June 16, 2011 Leave a Comment
Minggu lalu, saya di interview oleh suatu stasiun TV perihal musik dalam film. Ketika pertanyaan mengenai awal karir saya di musik dan scoring film, tentu saja saya menjawab “Janji Joni”.
Jadi teringat sedikit masa-masa itu (sekitar tahun 2004 – 2005). Kebetulan, saya menemukan sedikit dokumentasi fotonya dari facebook Age.
Waktu itu, Age sedang mencari band-band baru yang “kurang didengar” di area mainstream karena merasa tidak puas dengan band yang ditawari untuk mengisi soundtrack film Janji Joni. Jadilah Age dengan diracuni David Tarigan menyodorkan kita-kita ini untuk mengisi soundtrack film tersebut. Tanpa diduga, Ternyata sang sutradara Joko Anwar sangat menyukai musik-musiknya, jadilah kita semua berbondong-bondong masuk dapur rekaman di studio Pendulum, hehehe.
Lucunya, saat sesi rekaman Janji Joni ini, kita semua juga sedang dalam proses rekaman band masing-masing. Jadilah sesi rekaman ini masuk dalam jadwal rekaman kita juga, good timing. Tak lama setelah soundtrack ini rilis, hampir semua band yang turut serta juga mengeluarkan rilisan masing-masing, hampir di saat yang sama. Sebutlah The Adams, Whiteshoes and the Coules.Co, Sore, Zeke And The Popo, Goodnight Electric, Tika, Sajama Cut, etc.
Tentu ini adalah hal yang sangat seru mengingat kita juga sudah seperti keluarga besar yang saling mendukung satu sama lain.
Promosi film Janji Joni juga kita jadikan momentum untuk promosi album kita masing-masing, symbiosis mutualis gitu deh, hehehe.
So here it is, sedikit dokumentasi dari suatu project yang pernah kita bikin bareng-bareng.
Untuk caption foto selengkapnya disini.
This slideshow requires JavaScript.
June 5, 2011 Leave a Comment
Pertemuan saya dengan dia pertama kali di tahun 2007.
Waktu itu, hubungan percintaan saya baru berakhir dan saya sedang tidak ingin membina hubungan kembali karena saat itu masih sibuk dengan kantor saya di Blitz. Teman saya mengajak saya menemaninya ke sebuah mall dan disitulah pertama kali saya melihatnya.
Rambutnya masih pendek waktu itu dengan sorot mata yang indah, beberapa kali melihat ke saya sambil sibuk bicara dengan teman-teman bandnya. Ternyata dia baru selesai manggung waktu itu. Saya langsung bertanya ke teman saya “itu siapa?”, teman saya menjawab “oh, itu vokalis band gue.”
Tak berapa lama kemudian, saya menelpon dia untuk memberikan penawaran kerjasama antara bandnya dengan kantor saya. Lalu, pembicaraan ini berlanjut ke chatting di YM dan sms di malam hari, saling bercerita mengenai kehidupan masing-masing hingga bertukar pikiran mengenai segala macam hal. Perasaan itu begitu besar dan begitu agung, tetapi ada satu kendala waktu itu…Dia masih berhubungan dengan seseorang. Hal itu mengakibatkan kita tidak bisa lebih dari sekedar teman saja, karena saya menghormati hubungan dia.
Ternyata, Dia juga merasakan hal yang sama. Perasaan besar yang sangat agung dan mendesak dalam hati yang saya berusaha tekan setengah mati. Hal itu dia katakan sendiri ke saya dan saya juga mempercayai itu. Tetapi dengan segenap kekuatan, saya berusaha realistis bahwa dia sedang bersama seseorang saat itu.
Akhirnya, saya melakukan pengorbanan besar yaitu saya memutuskan untuk menjauh pelan-pelan dari Dia. Alasan saya adalah saya tidak mau menjadi orang yang merusak hubungan seseorang…Karena hal itu terjadi pada saya.
Seketika, hubungan kita perlahan-lahan merenggang dan akhirnya kita bisa bersikap sebagai teman biasa. Tak lama, saya kembali berhubungan dengan mantan saya, dan Dia juga menjalin hubungan dengan seseorang.
Tetapi, perasaan itu tidak pernah hilang sedikitpun, selama bertahun-tahun, bayangannya selalu ada menghantui saya. Meskipun tidak berhubungan “intense” seperti dulu, tetapi saya selalu memperhatikan dan mengikuti kehidupannya. Saya selalu membuka blognya, melihat foto-foto di Facebooknya dan follow twitternya.
====================================================================================
4 tahun berlalu, saya kembali tidak berhubungan dengan siapa-siapa. Saya berniat untuk tidak menjalin hubungan dulu. Meskipun bayangan Dia selalu terbersit di dalam hati saya, tetapi saya menolak untuk menghubungi Dia karena saya tidak mau membuat Dia merasa seperti dimanfaatkan. Dimanfaatkan untuk mengatasi kesepian saya saja ketika hubungan saya berakhir. Tidak, saya bukan laki-laki seperti itu.
Lalu tiba saat itu, ketika tanpa sengaja kita bertemu di suatu event dan Dia mengajak saya untuk bertemu kembali sesudah itu untuk sekedar berbicara dan “keeping up”. Sungguh, tidak ada niat apapun dari saya, saya merasa senang karena ada teman bicara yang sangat, sangat nyambung. Lalu bertemulah kita beberapa hari kemudian dan berbicara panjang lebar, tentang segala macam hal.
Seketika, perasaan sangat besar yang agung itu kembali lagi pelan-pelan. Perasaan yang sama ketika kita pertama kali bertemu 4 tahun lalu, tidak berubah sama sekali…
…Tidak sedikitpun.
Ketika perasaan yang sama ini tidak berubah setelah bertahun-tahun, tentu ada sesuatu disini.
…Dan kali ini, saya tidak akan menjauh lagi. Saya tidak akan kehilangan Dia untuk kedua kalinya…Not this time.
Saya tidak suka berjanji, janji adalah pintu gerbang menuju kekecewaan untuk saya.
I don’t do promises…but I’ll fight for it and I’ll work on it until we get through it together.
June 3, 2011 Leave a Comment
Coba lihat ke pergelangan tangan kita, apa yang ada disitu?
Bagi orang yang lahir di era 60 dan 70an, kita akan menggunakan jam tangan karena teknologi jam tangan untuk generasi itu adalah teknologi canggih untuk menunjukkan waktu. Bukan hanya itu, jam tangan adalah asesoris “prestigious” dan berfungsi sebagai social status.
Bagi orang yang lahir di era 90 dan 2000an, saya perhatikan jarang yang memakai jam tangan, karena menurut mereka itu cuma alat yang berfungsi cuma satu, dimana gadget sekarang bisa melakukan berbagai macam fungsi.
Taken from : Sir Ken Robinson TED Speech February 2006 (http://www.ted.com/talks/ken_robinson_says_schools_kill_creativity.html)
Generasi kita sekarang ini dipaksa untuk berpikir secara “multitasking”. Kita dipaksa untuk membagi konsentrasi kita ke banyak hal dalam satu waktu. Seperti komputer dengan memori besar, otak kita dipaksa untuk upgrade mengikuti memori komputer itu dengan menjalankan berbagai macam program dalam satu waktu.
Coba lakukan hal “multitasking” dalam waktu 6 jam non-stop, apa yang terjadi?
Pusing, bahkan kita tidak bisa berpikir jernih untuk ide-ide baru. Berbeda dengan komputer canggih tersebut, otak kita tidak bisa dipaksa untuk melakukan Multitasking dalam jangka waktu lama. Otak kita mempunyai batasan dan itu adalah manusiawi.
Sekarang, dengan pola hidup kita yang sangat berubah, 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu terasa kurang. Salah satu sebabnya adalah karena kita selalu terhubung (connected) selama 24 jam melalui gadget dan smartphone.
Semua orang butuh waktu untuk “Creative pause” atau waktu untuk berhenti beraktifitas sejenak. Khusus untuk seniman dan orang yang bekerja di bidang kreatif, kita perlu ada momen khusus dimana kita berhenti berpikir dan mengalami “Creative Pause” karena hal itu akan memancing ide-ide baru yang akan muncul.
“creative pause” – a state described as “the shift from being fully engaged in a creative activity to being passively engaged, or the shift to being disengaged altogether.” The 99 percent
Sebetulnya, khusus untuk orang yang beragama Islam, momen Creative Pause ini sudah selalu diingatkan oleh Tuhan selama lima kali dalam sehari. Ya, waktu itu adalah waktu sholat. Waktu Sholat selama lima kali itu adalah momen untuk kita melakukan Creative Pause dan bisa kita manfaatkan di sela kesibukan kita melakukan multitasking. Itulah gunanya wudhu, membasuh muka dan kepala hingga kita merasa segar kembali dan melakukan “monotasking” untuk kemudian kembali ke depan komputer dan bekerja kembali.
Try it, it’s refreshing.
See also : This article
-Iman Fattah-
3 June 2011
(Menulis sambil membuka twitter dan email)
May 24, 2011 Leave a Comment
>
Dalam rangka merayakan launching album kompilasi Ableton Indonesia: ALL for Live! Maka diadakan acara gathering yang juga merupakan ajang live performance, pengenalan, pembelajaran dan penyerahan penghargaan Nominasi ALIUP Award.
Acara ini dipersembahkan dari komunitas dan untuk komunitas, terbuka bagi semua teman-teman yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai Ableton Live, hingga yang baru ingin berkenalan dengan DAW kesayangankita ini.
Bring your friend – bring your girl friend, but..
YOU must register! and get an “Ableton Certified” certificate.
Send E-mail to: abletonindonesia@yahoo.com
Dengan info:
1. Nama Lengkap:
(Yang akan dicantumkan di dalam sertifikat)
2. Alasan mengikuti acara gathering:
Info Event:
Tema: ALL for Live!
Acara: Ngupi Bareng – Non Formal
Tujuan: Fun – Funky – Educational
Biaya: FREE! (Gratis)
Tempat: Chandracom (Studio and PA Room)
Alamat: Gading Bukit Indah Blok M No.2
Jalan Bukit Gading Raya
(Patokan: Lotte Mart Kelapa Gading, belok kiri)
Hari dan Tanggal: Sabtu, 18 Juni 2011
Waktu: 13:00 – 17:00 (hingga selesai)
Moderator: Gizky Harry (Elevation)
Pemandu Acara:
- Iman Fattah
- Wiwied Wicaksono (Djem)
- Marcel
Susunan Acara:
1. Pengenalan terhadap Ableton Live by Marcel
2. Live Performance by CLan #A4L
3. Penyerahan Penghargaan Nominasi ALIUP Award
4. Sesi tanya jawab mengenai Ableton Live
(by. Iman Fattah and Wiwied Wicaksono)
5. Foto bersama dan penyerahan sertifikat “Certified Abletoner”
Diramaikan dengan Kuis berhadiah: Merchandise Ableton
Setiap peserta akan mendapatkan sebuah FREE TRIAL Demo DVD Ableton Live Suite, yang pada dasarnya merupakan software original bagi yang sudah memiliki Lincensenya. Sehingga tidak perlu repot membeli dari Ableton Pusat,
atau mendownload file sebesar 4.6 Gb. Serta termasuk tutorial dan manual dalam .pdf
Early Bird Appreciations:
- 5 Peserta yang datang paling awal akan medapatkan Ableton Handbag
- 5 Peserta berikut (6 – 10) akan mendapakan Ableton Mouse Pad
LIVE PERFORMANCE by CLan #A4L:
Gizky Harry (Elevation)
Yodham
Aliansi Digital
Mardial
Iman Fattah
Untuk info lebih lanjut:
e-mail= abletonindonesia@yahoo.com
@ Ableton Indonesia 2011
May 24, 2011 Leave a Comment
>
Ketika turun kebawah untuk cek email, saya mendapatkan link dan pengumuman untuk mengikuti lomba review video clip ini. Jadilah saya click link-nya dan melihat video ini. Kesan yang saya dapatkan adalah “WOW, spektakuler!“.
Dengan pengalaman saya yang cukup, saya mungkin bisa sedikit mengira-ngira bahwa biaya pembuatan video ini tidak bisa dalam hitungan ratusan juta, sudah pasti diatas 1 Milyar. Dengan menyewa helikopter dan membangun set seperti itu, ditambah lagi dengan efek visual dengan level film blockbuster Hollywood, video ini bisa dahsyat dari sisi teknis.
Tetapi, saya merasa video ini ada beberapa kekurangan, dan hal-hal itu adalah :
May 17, 2011 Leave a Comment
>Saya punya tiga orang yang sangat saya kagumi dalam hidup saya. tiga orang ini adalah manusia yang patut mendapat tempat tertinggi di mata saya sebagai tokoh yang menginspirasi saya dan banyak orang di dunia.
Mereka adalah :
1. Nabi Muhammad SAW.
Sebagai Muslim, tidak ada keraguan untuk ini. Kita semua tentu mengenalnya lewat berbagai macam cerita, Qur’an dan Hadist. Untuk mengikuti beliau sudah suatu kewajiban. Karena itu, saya tidak akan bicara banyak mengenai beliau, cukup dengan kata-kata “Asyhadu anna Muhammad Darusullulah.”
2. Muhammad Ali.
Satu-satunya manusia di dunia yang diberi gelar “The People’s Champ” atau cukup “Champ” yang berarti “Sang Juara”. Mengenai beliau bisa lihat disini dan banyak lagi lah ya, termasuk film yang diperankan oleh Will Smith.
3. Steve Jobs.
Bukan, bukan karena saya pengguna produk-produk Apple. Kekaguman saya lebih kepada personality beliau sebagai seorang manusia dan hasil karyanya. Tentu saja mengenai beliau bisa dilihat disini dan bisa google sendiri.
Untuk Nabi Muhammad, tentu tidak perlu alasan lagi, tetapi untuk dua orang berikutnya ini penting ada alasan kenapa saya sangat mengagumi mereka. Apabila sudah click dan baca link yang saya berikan diatas, lalu membaca biografi mereka di banyak website dan media, Muhammad Ali dan Steve Jobs punya satu kesamaan.
Kedua orang itu adalah orang yang sangat sukses dijamannya, mendapat kekayaan yang berlimpah dan mempunyai semuanya ketika berada dipuncak karirnya. Lalu hal yang sama terjadi pada kedua orang itu yaitu mereka harus menelan kenyataan pahit yaitu kegagalan.
Muhammad Ali, juara dunia tak terkalahkan yang akhirnya harus ditangkap dan diadili karena menolak wajib militer. Hal ini mengakibatkan gelar juara dan ijin untuk bertinjunya dicabut dengan tidak hormat oleh pemerintah Amerika. Dia harus merasakan jatuh miskin dan dijauhkan dari hal yang paling dicintainya yaitu tinju.
Steve Jobs, seorang enterpreneur yang pada puncak kejayaannya menciptakan komputer Apple dan merubah pandangan semua orang bahwa komputer itu bisa digunakkan untuk semua orang, bukan cuma para ilmuwan. Pada puncak kejayaannya, Steve Jobs harus menerima kenyataan bahwa dirinya dipecat dari perusahaan yang dibuatnya sendiri. Berita pemecatan dirinya saat itu tersebar luas ke seluruh dunia dan reputasinya sebagai seorang CEO harus ternodai karena hal itu.
Dengan pengalaman buruk seperti itu, mereka tidak menyerah. Muhammad Ali pergi ke kampus-kampus untuk berpidato menentang perang Vietnam selama kira-kira 4 tahun. Selama itu pula, tim pengacaranya mengajukan banding ke US Supreme Court yang akhirnya memenangkan Muhammad Ali atas pemerintah Amerika, sehingga beliau bisa bertanding lagi dan merebut kembali gelar tinjunya. Steve Jobs mendirikan perusahaan software bernama Next yang lalu dibeli oleh Apple, perusahaan yang dibangunnya dulu. Dia juga mendirikan perusahaan animasi Pixar yang akhirnya dibeli oleh Walt Disney. Hal ini menjadikan beliau kembali ke dalam board Apple sehingga kembali menjadi CEO Apple…selanjutnya tidak perlu dijelaskan lagi lah ya.
Kedua orang itu benar-benar menunjukkan hal yang saya kagumi yaitu “determined” dan sifat “Struggle“. Dua orang itu menunjukkan bahwa ketika kita berada dititik paling bawah dalam hidup kita, jangan pernah hilang kepercayaan.
“The heaviness of being successful was replaced by a lightness of being a beginner again” ~ Steve Jobs (about his feeling of starting up again after being fired from Apple).
-Iman Fattah-
18 May 2011