Thank you
29 Friday Jul 2011
Posted in Life
29 Friday Jul 2011
Posted in Life
05 Sunday Jun 2011
Posted in Life
Pertemuan saya dengan dia pertama kali di tahun 2007.
Waktu itu, hubungan percintaan saya baru berakhir dan saya sedang tidak ingin membina hubungan kembali karena saat itu masih sibuk dengan kantor saya di Blitz. Teman saya mengajak saya menemaninya ke sebuah mall dan disitulah pertama kali saya melihatnya.
Rambutnya masih pendek waktu itu dengan sorot mata yang indah, beberapa kali melihat ke saya sambil sibuk bicara dengan teman-teman bandnya. Ternyata dia baru selesai manggung waktu itu. Saya langsung bertanya ke teman saya “itu siapa?”, teman saya menjawab “oh, itu vokalis band gue.”
Tak berapa lama kemudian, saya menelpon dia untuk memberikan penawaran kerjasama antara bandnya dengan kantor saya. Lalu, pembicaraan ini berlanjut ke chatting di YM dan sms di malam hari, saling bercerita mengenai kehidupan masing-masing hingga bertukar pikiran mengenai segala macam hal. Perasaan itu begitu besar dan begitu agung, tetapi ada satu kendala waktu itu…Dia masih berhubungan dengan seseorang. Hal itu mengakibatkan kita tidak bisa lebih dari sekedar teman saja, karena saya menghormati hubungan dia.
Ternyata, Dia juga merasakan hal yang sama. Perasaan besar yang sangat agung dan mendesak dalam hati yang saya berusaha tekan setengah mati. Hal itu dia katakan sendiri ke saya dan saya juga mempercayai itu. Tetapi dengan segenap kekuatan, saya berusaha realistis bahwa dia sedang bersama seseorang saat itu.
Akhirnya, saya melakukan pengorbanan besar yaitu saya memutuskan untuk menjauh pelan-pelan dari Dia. Alasan saya adalah saya tidak mau menjadi orang yang merusak hubungan seseorang…Karena hal itu terjadi pada saya.
Seketika, hubungan kita perlahan-lahan merenggang dan akhirnya kita bisa bersikap sebagai teman biasa. Tak lama, saya kembali berhubungan dengan mantan saya, dan Dia juga menjalin hubungan dengan seseorang.
Tetapi, perasaan itu tidak pernah hilang sedikitpun, selama bertahun-tahun, bayangannya selalu ada menghantui saya. Meskipun tidak berhubungan “intense” seperti dulu, tetapi saya selalu memperhatikan dan mengikuti kehidupannya. Saya selalu membuka blognya, melihat foto-foto di Facebooknya dan follow twitternya.
====================================================================================
4 tahun berlalu, saya kembali tidak berhubungan dengan siapa-siapa. Saya berniat untuk tidak menjalin hubungan dulu. Meskipun bayangan Dia selalu terbersit di dalam hati saya, tetapi saya menolak untuk menghubungi Dia karena saya tidak mau membuat Dia merasa seperti dimanfaatkan. Dimanfaatkan untuk mengatasi kesepian saya saja ketika hubungan saya berakhir. Tidak, saya bukan laki-laki seperti itu.
Lalu tiba saat itu, ketika tanpa sengaja kita bertemu di suatu event dan Dia mengajak saya untuk bertemu kembali sesudah itu untuk sekedar berbicara dan “keeping up”. Sungguh, tidak ada niat apapun dari saya, saya merasa senang karena ada teman bicara yang sangat, sangat nyambung. Lalu bertemulah kita beberapa hari kemudian dan berbicara panjang lebar, tentang segala macam hal.
Seketika, perasaan sangat besar yang agung itu kembali lagi pelan-pelan. Perasaan yang sama ketika kita pertama kali bertemu 4 tahun lalu, tidak berubah sama sekali…
…Tidak sedikitpun.
Ketika perasaan yang sama ini tidak berubah setelah bertahun-tahun, tentu ada sesuatu disini.
…Dan kali ini, saya tidak akan menjauh lagi. Saya tidak akan kehilangan Dia untuk kedua kalinya…Not this time.
Saya tidak suka berjanji, janji adalah pintu gerbang menuju kekecewaan untuk saya.
I don’t do promises…but I’ll fight for it and I’ll work on it until we get through it together.
03 Friday Jun 2011
Coba lihat ke pergelangan tangan kita, apa yang ada disitu?
Bagi orang yang lahir di era 60 dan 70an, kita akan menggunakan jam tangan karena teknologi jam tangan untuk generasi itu adalah teknologi canggih untuk menunjukkan waktu. Bukan hanya itu, jam tangan adalah asesoris “prestigious” dan berfungsi sebagai social status.
Bagi orang yang lahir di era 90 dan 2000an, saya perhatikan jarang yang memakai jam tangan, karena menurut mereka itu cuma alat yang berfungsi cuma satu, dimana gadget sekarang bisa melakukan berbagai macam fungsi.
Taken from : Sir Ken Robinson TED Speech February 2006 (http://www.ted.com/talks/ken_robinson_says_schools_kill_creativity.html)
Generasi kita sekarang ini dipaksa untuk berpikir secara “multitasking”. Kita dipaksa untuk membagi konsentrasi kita ke banyak hal dalam satu waktu. Seperti komputer dengan memori besar, otak kita dipaksa untuk upgrade mengikuti memori komputer itu dengan menjalankan berbagai macam program dalam satu waktu.
Coba lakukan hal “multitasking” dalam waktu 6 jam non-stop, apa yang terjadi?
Pusing, bahkan kita tidak bisa berpikir jernih untuk ide-ide baru. Berbeda dengan komputer canggih tersebut, otak kita tidak bisa dipaksa untuk melakukan Multitasking dalam jangka waktu lama. Otak kita mempunyai batasan dan itu adalah manusiawi.
Sekarang, dengan pola hidup kita yang sangat berubah, 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu terasa kurang. Salah satu sebabnya adalah karena kita selalu terhubung (connected) selama 24 jam melalui gadget dan smartphone.
Semua orang butuh waktu untuk “Creative pause” atau waktu untuk berhenti beraktifitas sejenak. Khusus untuk seniman dan orang yang bekerja di bidang kreatif, kita perlu ada momen khusus dimana kita berhenti berpikir dan mengalami “Creative Pause” karena hal itu akan memancing ide-ide baru yang akan muncul.
“creative pause” – a state described as “the shift from being fully engaged in a creative activity to being passively engaged, or the shift to being disengaged altogether.” The 99 percent
Sebetulnya, khusus untuk orang yang beragama Islam, momen Creative Pause ini sudah selalu diingatkan oleh Tuhan selama lima kali dalam sehari. Ya, waktu itu adalah waktu sholat. Waktu Sholat selama lima kali itu adalah momen untuk kita melakukan Creative Pause dan bisa kita manfaatkan di sela kesibukan kita melakukan multitasking. Itulah gunanya wudhu, membasuh muka dan kepala hingga kita merasa segar kembali dan melakukan “monotasking” untuk kemudian kembali ke depan komputer dan bekerja kembali.
Try it, it’s refreshing.
See also : This article
-Iman Fattah-
3 June 2011
(Menulis sambil membuka twitter dan email)
17 Tuesday May 2011
Posted in Life
>Saya punya tiga orang yang sangat saya kagumi dalam hidup saya. tiga orang ini adalah manusia yang patut mendapat tempat tertinggi di mata saya sebagai tokoh yang menginspirasi saya dan banyak orang di dunia.
Mereka adalah :
1. Nabi Muhammad SAW.
Sebagai Muslim, tidak ada keraguan untuk ini. Kita semua tentu mengenalnya lewat berbagai macam cerita, Qur’an dan Hadist. Untuk mengikuti beliau sudah suatu kewajiban. Karena itu, saya tidak akan bicara banyak mengenai beliau, cukup dengan kata-kata “Asyhadu anna Muhammad Darusullulah.”
2. Muhammad Ali.
Satu-satunya manusia di dunia yang diberi gelar “The People’s Champ” atau cukup “Champ” yang berarti “Sang Juara”. Mengenai beliau bisa lihat disini dan banyak lagi lah ya, termasuk film yang diperankan oleh Will Smith.
3. Steve Jobs.
Bukan, bukan karena saya pengguna produk-produk Apple. Kekaguman saya lebih kepada personality beliau sebagai seorang manusia dan hasil karyanya. Tentu saja mengenai beliau bisa dilihat disini dan bisa google sendiri.
Untuk Nabi Muhammad, tentu tidak perlu alasan lagi, tetapi untuk dua orang berikutnya ini penting ada alasan kenapa saya sangat mengagumi mereka. Apabila sudah click dan baca link yang saya berikan diatas, lalu membaca biografi mereka di banyak website dan media, Muhammad Ali dan Steve Jobs punya satu kesamaan.
Kedua orang itu adalah orang yang sangat sukses dijamannya, mendapat kekayaan yang berlimpah dan mempunyai semuanya ketika berada dipuncak karirnya. Lalu hal yang sama terjadi pada kedua orang itu yaitu mereka harus menelan kenyataan pahit yaitu kegagalan.
Muhammad Ali, juara dunia tak terkalahkan yang akhirnya harus ditangkap dan diadili karena menolak wajib militer. Hal ini mengakibatkan gelar juara dan ijin untuk bertinjunya dicabut dengan tidak hormat oleh pemerintah Amerika. Dia harus merasakan jatuh miskin dan dijauhkan dari hal yang paling dicintainya yaitu tinju.
Steve Jobs, seorang enterpreneur yang pada puncak kejayaannya menciptakan komputer Apple dan merubah pandangan semua orang bahwa komputer itu bisa digunakkan untuk semua orang, bukan cuma para ilmuwan. Pada puncak kejayaannya, Steve Jobs harus menerima kenyataan bahwa dirinya dipecat dari perusahaan yang dibuatnya sendiri. Berita pemecatan dirinya saat itu tersebar luas ke seluruh dunia dan reputasinya sebagai seorang CEO harus ternodai karena hal itu.
Dengan pengalaman buruk seperti itu, mereka tidak menyerah. Muhammad Ali pergi ke kampus-kampus untuk berpidato menentang perang Vietnam selama kira-kira 4 tahun. Selama itu pula, tim pengacaranya mengajukan banding ke US Supreme Court yang akhirnya memenangkan Muhammad Ali atas pemerintah Amerika, sehingga beliau bisa bertanding lagi dan merebut kembali gelar tinjunya. Steve Jobs mendirikan perusahaan software bernama Next yang lalu dibeli oleh Apple, perusahaan yang dibangunnya dulu. Dia juga mendirikan perusahaan animasi Pixar yang akhirnya dibeli oleh Walt Disney. Hal ini menjadikan beliau kembali ke dalam board Apple sehingga kembali menjadi CEO Apple…selanjutnya tidak perlu dijelaskan lagi lah ya.
Kedua orang itu benar-benar menunjukkan hal yang saya kagumi yaitu “determined” dan sifat “Struggle“. Dua orang itu menunjukkan bahwa ketika kita berada dititik paling bawah dalam hidup kita, jangan pernah hilang kepercayaan.
“The heaviness of being successful was replaced by a lightness of being a beginner again” ~ Steve Jobs (about his feeling of starting up again after being fired from Apple).
-Iman Fattah-
18 May 2011
15 Sunday May 2011
>Allahu Akbar! Kata yang “sebetulnya” sungguh indah.
Allahu Akbar! Artinya Allah Maha Besar.
Kebesarannya terlihat dengan kehidupan kita di dunia serta alam semesta yang tak terhingga jumlahnya.
Kebesarannya terlihat dengan beragam dan berbagai rupa kehidupan di dunia.
Kebesarannya terlihat dengan bermacam-macam manusia dan kebudayaannya di seluruh dunia.
…Tapi, terkadang, kata Allahu Akbar itu ternodai dengan sikap yang tidak menunjukkan kebesarannya sendiri.
Kadang diucapkan sambil memandang curiga penuh kebencian terhadap orang lain, yang berbeda keyakinan, yang berbeda bahasa, yang berbeda budaya.
Kadang malah diucapkan sambil menyakiti orang lain, menghakimi orang lain…bahkan kata itu juga diucapkan dengan bangga sambil membunuh orang lain.
Ketika kita berteriak dengan lancang dan bangga “Allahu Akbar!” dengan senjata ditangan dan maju ke medan perang yang dibuat sendiri, artinya kita mengecilkan arti kata itu.
Ketika kita berteriak dengan lancang dan bangga “Allahu Akbar!” dengan kebencian dan menghakimi manusia lain, artinya kita mengecilkan arti kata itu dan mengecilkan Tuhan yang kita anggap besar.
Kita berteriak dengan lancang akan kebesaran Tuhan dan bersikap mengecilkannya disaat yang sama.
“Tidak boleh ada paksaan dalam agama. Sungguh telah nyata (berbeda) kebenaran dari kesesatan. Barang siapa menolak tirani dan percaya kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada tali yang kukuh, yang tidak akan lepas. Allah Maha Mendengar dan Maha mengetahui” (QS al-Baqarah/2
:256)
-Iman Fattah-
16 May 2011
07 Saturday May 2011
Posted in Life
>HP adalah salah satu nama merk perusahaan teknologi. HP mempunyai beberapa produk yang berguna sekarang dan salah satunya adalah Printer.
Printer sendiri sebetulnya merupakan mesin cetak modern yang bisa digunakan oleh semua orang dirumahnya. Ringkas, padat, tidak besar, mobile dan fleksibel.
Manusia sejak jaman dulu mempunyai suatu alat untuk melakukan percetakan. Mengenai mesin cetak mungkin bisa dibaca sendiri disini.
Tugas utama mesin cetak adalah untuk mencetak berbagai macam pemikiran dalam berbagai format, mungkin yang paling umum adalah buku. Buku adalah suatu ide dan pemikiran yang tidak akan pernah mati. Ya, suatu ide itu tidak akan pernah mati, dia tercetak untuk dijadikan konsumsi semua generasi. Perkara ide atau pemikiran tersebut relevan atau tidak itu urusan masing-masing. Misalnya, Suatu event diselenggarakan (misalnya) di cafe A. Panitia lantas mencetak flyers untuk promosi event tersebut untuk dibagikan ke khalayak. Ketika event tersebut sudah selesai, mungkin 10 tahun kemudian, ada anak salah seorang panitia event tersebut yang menemukan flyers acara itu. Lalu sang anak itu menyebarkan flyers tersebut melalui media internet. Begitu pun mungkin 10 tahun kemudia, dan 100 tahun kemudian, dan 1000 tahun kemudian.
Intinya sih, manusia hidup di dunia sebagai mesin cetak. Setiap manusia ada di dunia untuk “mencetak” kehidupannya dengan existensinya, apakah dia akan menjadi baik atau jahat itu urusan masing-masing. Perkara materi dan faktor ekonomi itu adalah salah satu cara untuk menyambung hidup, menyambung hidup untuk “mencetak” sesuatu hal yang diyakini oleh manusia itu. Ibaratnya, butuh tinta printer untuk nge-print, hehe.
Jadi, apakah yang sudah kita “cetak” untuk kehidupan ini yang membuat kita “seseorang”, yang akan diingat existensinya di dunia ini walaupun kita sudah tidak ada nanti?
People don’t die, only their bodies are buried.
- Iman Fattah -
7 May 2011
03 Tuesday May 2011
Posted in Life
>Hari ini, 2 Mei 2011 adalah hari pendidikan nasional.
27 Wednesday Apr 2011
Posted in Life
>Baca blog ini,
22 Friday Apr 2011
>
17 Sunday Apr 2011
Posted in Life
>Bukan, bukan cadas metal disini tapi cadas emosionalnya. Berhubung musik Metal juga emosional, jadi sama aja seperti cadas kali ya (abaikan…)